From the heart of backpacker little expedition.

Gunung Budheg atau yang memiliki nama lain Gunung Cikrak, terletak di sisi selatan Kota Tulungagung, tepatnya di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. Memiliki ketinggian 585 mdpl jika di lihat dari tingginya tidak seberapa dibandingkan gunung gunung lain di jawa timur.

Meski tingginya tak seberapa Namun jangan anggap remeh dulu track untuk mendaki gunung ini boleh dibilang ckup ekstrim dan pastinya menguras tenaga, gunung yang terkenal mistis ini menawarkan keindahan alam yang sangat mengagumkan.

Malam itu rasa penasaran saya sudah tidak dapat ditahan lagi, membuncah pecah menjadi hasrat yang harus segera di penuhi. Saya ingin bersilahturahmi mendaki kesana, kepada sebuah gundukan batu yang paling tinggi diantara Perbukitan Walikukun. Tempat legenda kisah cinta Joko Budeg dengan Dewi Roro Kembang Sore. Menyebutnya sebagai Gunung Budheg yang kokoh berdiri menyaksikan timbul tenggelamnya peradapan Bumi Ngrowo.

Kami mulai menyusuri setapak berbatu, mengarahkan sorot headlamp untuk menunjukkan arah jalan. Gulita perbukitan menghadirkan seram, hanya beberapa kunang-kunang yang mencoba menandingi kerlip senter yang mulai meredup. Sekejap kemudian selama satu jam kami sudah menapaki ketinggian dengan berjalan pelan dari titik awal pendakian. Dari kejauhan kerlap kerlip lampu perkampungan terlihat jelas. Angin berhembus pelan saat kami berada di vegetasi rerimbunan perdu yang tinggi, “Hem, aroma bunga kantil sekejap memenuhi rongga hidung memicu bulu kuduk berdiri, merinding “. Saya menghiraukan dengan prasangka baik, mungkin disini ada pohon kantil yang sedang berbunga mekar. Memang di lokasi ini seperti penuturan beberapa kawan-kawan yang sering turun naik Gunung Budheg sudah biasa mencium aroma bunga kantil dan saya telah membuktikan ataukah ini sebuah “sambutan”. Hanya sebentar kemudian netral, tepatnya di tanjakan sebelum Watu Slendang. Sayapun tak banyak bicara hanya wejangan tentang jarak tempuh serta kesabaran yang tertanam dalam fikiran.

Melintasi Watu Slendang yang berada di tanjakan ini cukup menguji nyali. Lokasi ini dalam skala mini tidak kalah dengan Watu Rejeng Gunung Semeru atau Pereng Putih Gunung Merbabu. Menuju puncak dari Watu Slendang tanjakan semakin tajam, menapaki jalur yang didominasi batuan diantara tebing licin dan jurang. Tibalah kami di puncak bayangan ( sebutan umum di seluruh gunung bahwa puncak bayangan merupakan pelawangan menuju puncak utama ). Kami putuskan untuk beristirahat disini, di sebuah tanah lapang yang cukup rata. Cuaca malam ini cerah bersahabat meski pada siang tadi hujan sempat mengguyur yang membuat track basah dan licin. Hening cakrawala dalam tenang dan diam jutaan bintang tiba-tiba terusik oleh pemandangan kontras. Bukan cela dari lintasan bintang jatuh tetapi drama kehidupan makhluk ciptaanNya. Meluncur cepat diatas kami dua ekor Burung Hantu yang saling menghantamkan diri, berputar putar kemudian saling menghantam lagi, berulang-ulang lebih dari lima kali. Entah siapa yang terluka oleh cakar tajam dari tarian perang ini. Tidak lebih dari 1 menit sajian pertarungan sengit itu terjadi di atas kami selanjutnya mereka saling berkejaran, mengepakkan sayap dengan cepat lalu menghilang ditelan pekat dan kami yang masih diam tercekat.

Kami tiba dipuncak pukul 03:15 wib track licin dan basah membuat kami harus berjalan lebih dari 3 jam perjalanan. Langit cerah malam itu. Kami menghabiskan waktu dengan menyambangi puncak terlebih dahulu menikmati angin malam, dan gemerisik daun. Seisi kota Tulungagung yang bersolek dalam kerlip lampu terlihat jelas dari atas sini. Lalu kami lanjutkan membnuat tenda serta membuat kopi dan makan bekal yang sudah kami bawa dari rumah.

Diatas ketinggian mata ini terus mencari konon terlihatnya sebuah candi yang dinamakan candi dadi, memperkirakan diantara gugusan perbukitan tempat berdiri diatasnya Candi Dadi, lelah mata melotot dan sesekali berkedip tetapi tidak juga menemukan walau itu hanya setitik, mungkin terhalang rimbun pepohonan lalu pasrah memaklumi keterbatasan mata manusia. Meski matahari mulai tinggi, dari puncak, kami masih bisa menikmati pemandangan bukit, sawah, dan awan yang berlapis-lapis hingga garis cakrawala, membuat kami bisa mengabadikan sejenak berswafoto dengan kamera bang topan.

Hari terus bergerak, matahari mulai terik menyengat. Menyempatkan sebentar untuk sarapan pagi sederhana menikmati bekal roti serta snack. serta meengemasi barang untuk bergegas turun dan tak berapa lama sekawanan penghuni lokal gunung ini beraksi mendekati kami, ya kawanan monyet berusaha merebut bekal yang kami bawa beruntung waktu itu tidak ada barang atau apapun yang berhasil terbawa.

Perjalanan turun kami sangat santai menikmati pemandangan alam bawah yang sangat menghias mata. hamparan persawahan terlihat hijau rata selayaknya lapangan sepakbola dieropa serta beberapa burung berterpangan layaknya mengahntarkan kami turun kala itu.

Dan Sesampainya di bawah, 2 piring gorengan serta beberapa pop ice tandas di perut. Di sana Pak Agus selaku pengelola utama gunung budheg menyambut kami datang dengan wajah sumringah, menemani kami mengaso dengan cerita epiknya tentang sejarah panjang gunung budheg dan berbagai cerita mistisnya.

Mendaki Gunung Budheg, alam yang menghampar menjadi guru. Terima kasih atas sambutan tarian perang Burung Hantu, sapa nakal para monyet, sunrise yang indah dan semerbak aroma Bunga Kantil. Mereka yang jauh bermukim lebih lama dari kita dan menjadikannya rumah yang indah. Sudah selayaknya kita menjadi tamu yang baik.